What's new
Dilarang.net

Register a free account today to become a member! Once signed in, you'll be able to participate on this site by adding your own topics and posts, as well as connect with other members through your own private inbox!

  • Guest BUATLAH THREADS PADA CATEGORY YANG DI SEDIAKAN
    Segala Bentuk Spam Akan di Hapus Secara Keseluruhan Threads & Post, Bantuan Email : FORUMSODASUSU@GMAIL.COM
    CEK EMAIL VERIFIKASI REGISTER DI FOLDER SPAM
Live Casino Sbobet Online Judi Poker Domino 99 ituQQ Situs Sbobet Online Bandar Poker Sakong BandarQ Online

Balada Otong #1

patrio

New Member
Joined
Feb 4, 2015
Messages
1,014
Reaction score
0
Points
0
Sebut saja aku Otong. Mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di kota pelajar. Aku resmi menyandang status sebagai mahasiswa sejak 3 tahun lalu, dan sampai saat ini aku pun masih berstatus sama. Aku anak yang suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan diri. Terlebih lagi dengan hal-hal yang berbau wanita. Pastinya aku langsung semangat 45 untuk satu urusan ini.

Maka dari itu, tidak jarang aku menghabiskan malamku di salah satu club malam di kota gudeg ini. Namun, dari situ lah aku jadi punya banyak teman wanita. Terlebih lagi cwek kenalanku di club malam itu mayoritas bisa dibilang “nakal”.

Suatu malam, seperti malam-malam sebelumnya, aku menghabiskan waktuku di club malam. Aku tiba di clum malam itu terlambat. Waktu jam tanganku menunjukkan tepat pukul 00.23 WIB. Seperti biasa, aku mengorek habis gelas demi gelas yang berisi minuman keras (bukan ciu
) sambil menikmati suasana. Sama seperti orang lain yang ada didalam club malam itu.

Ada yang duduk sambil minum seperti aku, ada juga yang asik berjoget mengikuti irama musik DJ. Berjam-jam aku hanya duduk sendiri karena anak-anak yang aku kenal pada berpencar sendiri-sendiri bersama teman-temannya. Aku hanya bisa melihatnya sambil berpikir ngeres.

“Gimana ya, rasanya kalo naikin si Vha?” benakku.

Vha adalah salah satu kenalanku yang paling aku sukai. Dilihat dari tubuhnya saja aku yakin laki-laki pasti roboh imannya. Ya, Vha memang lahir dengan dianugerahi tubuh yang indah. Dia punya tinggi kurang lebih 167 cm dan juga kulit yang putih mulus. Dadanya sintal dan bulat berisi, terlihat jelas karena dia acap kali memakai pakaian minim. Pahanya selalu terlihat walaupun dia tidak telanjang. Mulus sekali, nyamuk aja pasti kepeleset kalau mau nemplek ke pahanya.

Terlebih lagi wajahnya yang sayang untuk dilewatkan untuk dilihat. Hidungnya mancung, matanya setengah sipit, nyaris seperti panlok, namun dia keturunan jawa. Untuk keseluruhan wajahnya, mulus tanpa satu titik noda ataupun jerawat.
“Uhhh, ihirr....,” gumamku.

Lama aku duduk sambil memandang keindahan tubuh Vha. Dan tak terasa waktu sudah beranjak subuh. Satu dua orang bergantian mulai meninggalkan klub malam itu. Namun aku masih saja duduk memandang. Disaat itu juga, tiba-tiba aku lihat Vha terjatuh. Dengan penuh was-was, aku menghampirinya yang telah tepar tak berdaya dan dikelilingi temannya. Aku bertanya ke salah satu temannya,

“Kemana si Vha mbak?” tanyaku.

“Gak tau mas, kayaknya kebanyakan minum ini,” jawabnya.

“ O gitu, yaudah, ayo bawa ke mobilku aja, aku aja yang anter,” saranku.

“Yaudah deh mas, lagian kita juga gak ada yang bawa mobil dan juga gak ada cowok juga,” sambunya.

Kemudian aku dibantu salah satu pelayan club malam itu menangkat Vha ke mobilku. Disusul dua teman satu kostnya ikut naik mobilku. Setelah itu aku mulai menghidupkan mobilku dan langsung jancap gas ke kost Vha.

Sesampainya di kost, aku harus mengangkat Vha sendiri sampai ke kamarnya.

“ Maaf ya mas, aku sama Ree gak kuat e,” ucap teman Vha.

“Iya gak papa mbak, nyante aja, q juga temen dekernya Vha kok, sepantesnya aku bantu,” jawabku sambil jalan menuju kamar Vha.

Sampai di kamar Vha yang kebetulan dalam keadaan terbuka, aku langsung membaringkannya diatas kasur empuknya. Aku duduk sebentar, sebelum kemudian pergi keluar. Sampai diluar kamar Vha, aku menuju kamar temennya Vha untuk pamitan pulang. Sampai didepan kamar mereka berdua yang kebetulan satu kamar, aku ketok pintunya. Lima menit aku ketok namun tak ada jawaban. Pikirku mungkin udah molor ini anak.

“Yasudahlah,” gumamku.

Setelah itu aku jalan ke mobil untuk pulang. Sesampainya di mobil, namun belum sempat menghidupkan mobil, aku berpikir untuk mengambil kesempatan ini.

“Duh, kesempatan emas ini. Si Vha kan gak suka cowok, n skarang dia sendiri dikamat tak berdaya. Tancap ah!” omongku sendiri.

Lalu aku keluar dan mengunci semua pintu mobil sebelum menuju kamar Vha. Sampai di kamar Vha yang masih terbuka karena tadi memang aku tidak menutupnya, aku langsung masuk dan mengunci pintu kamar. Aku melihatnya sejenak sambil sesekali meraba lalu memegang tangannya. Dia hanya terdiam.

Lama-kelamaan aku membaringkan diri disamping Vha sambil menyangga kepalaku dengan tangan kananku, dan tangan kiriku terus meraba-raba tubuh Vha. Aku elus rambut lurusnya. Dilanjutkan pipi mulusnya dan kemudian dadanya. Seketika itu juga kemaluanku tegang 100%.

“Duh, ni si udin gak sabaran,” gumamku.

Merasa tak ada respon ataupun perlawanan dari Vha, aku mulai berani untuk membuka seluruh pakaian serta atribut yang ia pakai. Beberapa menit berlalu dan terlihat lah body mulus, wajah cantik nan menggota. Aku pun melucuti tubuhku sendiri dan kita berdua sama-sama telanjang bulat.

Aku mulai berani untuk mengecup bibir serta mincumbui leher serta pipinya. Tak lupa tangan kanan dan kiriku meremas bebas dadanya. Duh kenyal sekali. Lalu aku merasa capek dan aku turun kesamping Vha. Aku mulai mempermainkan jari tangan kananku di pintu lubang kemaluan Vha. Bersamaan itu aku juga mengecup lehernya lama sampai terlihat merah. Lama-kelamaan Vha merasakan juga rangsanganku. Dia mulai mendesah keenakan sebelum terbangun dari telernya.

“Emmmhhhhh..,” desahnya.

Beberapa menit aku merangsangnya akhirnya dia tersadar juga.

“Ngapain lu Tong?” tanyanya pelan.

“Manjain elu lah,” jawabku pelan juga.

Memang pertama aku tau Vha mulai tersadar, aku sempat kaget. Namun aku bikin relax aja, seolah-olah dia juga mau.
Setelah aku menjawabnya, aku kembali merangsangnya dan mulai memasukkan jariku ke lubang kemaluannya. Seketika Vha merasa kegelian dan keenakan.

“Ouggghhh, terus Tong, enang banget tuh,” katanya sambil mendesah.

Lama aku merangsangnya dan dia keenakan. Dan akhirnya aku beranikan diri untuk menaiki lalu memasukkan udin ke sarangnya. Setelah aku naik, tak kusangka ternyata Vha menyambutku dengan merenggangkan pahanya. Tak lama-lama meposisikan diri, akhirnya aku berhasil juga memasukkan udin ke sarangnya. Begitu masuh, terlihat wajah ayu nan rupawan itu menahan sedikit sakit beberapa detik sebelum akhrinya berubah menjadi ekspresi wajah menahan nikmat.

“Emmmhhhhhhh,” desahnya lirih.

Dan akhirnya aku sampai pada posisi yang aku dambakan sejak dulu. Vha dibawahku dan aku leluasa memainkannya.

“Yang kenceng Tong, enak banget. Dah ama gue gak ngerasain. Isssshhhhhh.... ,” ucapnya.

Tanpa pikir panjang akupun mempercepat ritme genjotan udinku sambil kedua tanganku meremas kedua gunungnya.

“Ougghh,” desahku keenakan.

“Aihhhh.... usssshhh.... uuussshhhhh...,” desah Vha menikmati permainanku.

Kurang lebih 15 menit aku menggenjot habis Vha, kami pun akhirnya tiba pada titik puncak kenikmatan yang tanpa disengaja bersamaan. Dan ahirnya kita berdua keluar bersama.

“aaaahhhhhhhhhhh......,” teriak kita lirih serempak.

Setelah itu akupun terlemas dan terunkap diatas tubuh Vha dengan keadaan udin masih tertancap dilubangnya . Dan Vha pun memeluk sembari mengelus dadaku. Tak lama setelah itu aku turun dari tubuh indah nan seksi itu kesampingnya untuk membaringkan diri. Vha pun menyambutku dengan pelukan hangat dan menjadikan lenganku sebagai bantalnya. Layaknya seorang pacar.

Belum ada beberapa menit kita berbaring, kami pun akhirnya tertidur pulas.
 

Top